FILOSOFI BATAK DALAM FILM NGERI-NGERI SEDAP

Ditulis oleh : SRI SIRAIT

Sri Sirait dan Gloria Sirait

Sabtu, 18 Juni 2022 kemarin, saya dan keluarga abang saya pergi ke bioskop untuk menonton film NGERI-NGERI SEDAP. Film yang disutradarai oleh Bene Dion sukses membuat saya menangis dan tertawa sepanjang film ditayangkan. Saya akan memberikan review film NGERI-NGERI SEDAP yang sarat akan filosofi kehidupan keluarga batak. Secara khusus mereka yang masih tinggal di pedesaan dan masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat istiadat Batak.

BEST FAMILY MOVIE

Film NGERI-NGERI SEDAP merupakan cerminan cerita yang mengangkat budaya kehidupan keluarga Batak. Film ini menceritakan tentang Bapak dan Mama Domu yang rindu dan gelisah melihat ketiga anaknya yang betah di perantauan. Ketiga anak tersebut adalah Domu sebagai anak pertama, Gabe sebagai anak kedua dan Sahat sebagai anak terakhir.

Meskipun Pak Domu dan Ma Domu ditemani oleh sang boru kedua (anak perempuan kedua mereka yang bernama Sarma). Mereka tetap merindukan ketiga anaknya yang tinggal jauh dari mereka.

Domu sang anak pertama bekerja sebagai pegawai BUMN di Kota Jawa Barat yang memiliki seorang calon istri berdarah Sunda. Namun karena sang Ayah setiap kali bertelepon selalu berbicara untuk “Pokoknya karena kau  anak pertama, kau harus menikah dengan wanita Batak supaya darah Batak mu tetap mengalir ke keturunanmu”. Dan ketika Domu menceritakan bahwa dia memiliki calon istri yang berdarah Sunda, sang Ayah tidak mau merestui hubungan mereka.

Anak kedua yaitu Sarma. Sebagai anak wanita satu-satunya, Sarma yang bekerja sebagai PNS di Kecamatan selalu bersih-bersih dan masak di rumah. Sebelum bekerja Sarma selalu menyiapkan sarapan pagi untuk mama dan bapaknya.

Gabe anak ketiga bekerja sebagai seorang pelawak terkenal di Ibukota. Pekerjaan Gabe yang identik dengan dunia televisi membuat Gabe sangat sibuk dan sudah 5 tahun tidak pulang ke kampung untuk menemui Ayah dan Ibunya. Setiap kali bertelepon Ayahnya tidak pernah setuju dengan pekerjaan melawaknya karena Ayah berpendapat bahwa sarjana Hukum yang Gabe dapatkan menjadi sia-sia ketika ia hanya bekerja sebagai pelawak dan bukan sebagai hakim. 

Anak bontot yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya adalah Sahat. Sahat yang bekerja sebagai petani di daerah Jawa ini lebih open minded di dalam pemikiran. Sang Ayah selalu mengatakan bahwa “Anak bontot seharusnya tinggal di rumah mengurus mama dan bapaknya, karena orang Batak biasanya mewarisi rumah kepada anak bontotnya”. Sahat seperti tidak terlalu memikirkan warisan yang digadang-gadang oleh sang Ayah.

Keluarga Besar Sirait

FILOSOFI BATAK

Di film ini, beberapa part banyak mengungkit tentang filosofi Batak. Seperti adegan ketika acara “Sulang-sulang pahompu”, dimana semua anggota keluarga (anak laki-laki, anak perempuan dan cucu-cucu mereka wajib hadir di dalam acara ini).

Tidak hanya itu, karakter Ma Domu sangat identik dengan karakter ibu-ibu Batak dimana seorang Ibu tugasnya selain memasak di dapur, mereka cenderung menjadi pendengar yang baik bagi suaminya. Dimana ketika sang suami berpendapat, ia tidak boleh menentangnya, melainkan hanya mendengar serta menyetujui semua perkataan sang suami.

Sarma di dalam film ini sangat menceritakan bagaimana karakter “boru” di dalam keluarga. Disini, Sarma yang bekerja sebagai PNS sebenarnya tidak mencintai pekerjaannya. Sarma dulunya diterima di satu Universitas khusus masak di Bali. Namun sang Ayah mengatakan bahwa memasak itu bukanlah sebuah pekerjaan tetap, memasak hanya sebuah hobi. Karena itulah Sarma harus menutup mimpinya menjadi seorang chef atas gagasan sang Ayah. Yang paling menyakitkan adalah Sarma juga memiliki seorang pacar, namun ia harus putus dikarena ketika ia akan mengenalkan kepada sang Ayah, pacarnya bukan dari darah Batak. Sehingga Sarma harus merelakan kisah cintanya (putus dengan sang pacar). Disini saya melihat bahwa sebagai seorang “boru” Sarma sangat mencintai orangtuanya terlebih sang Ayah, dimana apapun yang dikatakan sang Ayah, Sarma engga untuk melawan.

Inti dari cerita “Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au”

Dengan latar belakang Danau Toba yang indah, film ini sukses membuat saya kagum akan keindahan alam dari pulau Samosir. Inti dari cerita ini sebenarnya ingin menunjukkan bahwa keempat anak dari Bapak dan Mak Domu merupakan harta yang paling berharga. Di dalam petuah Opung Boru yang mengatakan bahwa “Anaknya (Pak Domu) berjanji kalau anak-anaknya sudah sukses, ia akan membuat acara Sulang-sulang Pahompu. Karena menurutnya harta itu bukan cuma uang, namun yang penting adalah keturunan. Anak-anak adalah harta yang paling berharga untuk Opung”.

Bahkan ada adegan dimana ketika Domu, Gabe, dan Sahat sedang tidur di ruang tamu, sang Ibu menghampiri mereka lalu mencium kening mereka satu per satu. Di adegan ini menceritakan bahwa meskipun ketiga anak-anaknya sudah dewasa, kasih sayang sang Ibu tidak pernah luntur sampai akhir hayatnya. 

Kalian pasti penasaran dengan film ini dimana selain konflik, disini penonton akan dibawa ke sebuah momen haru dimana penonton akan mengerti alasan kenapa sang anak merantau jauh dari sang Ayah.

Ending cerita yang menguras air mata dimana hati Bapak Domu yang dulunya keras bisa menjadi luluh karena ia tahu bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga. Dimana kebahagiaan sang anak juga merupakan kebahagiaan baginya. ***

Duet Boru Sirait

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Louissitorus berkata:

    Mantaap jadi ingin menonton.

  1. Juni 20, 2022

    […] Redaksi mengatakan: mantapp kakak […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.