Gelar Ritual Nyanggar, PT. NBL dan KTC Patuhi Hukum Adat Desa Pendreh

Rangkaian acara

BARITO UTARA, SINURBERITA.COM

PT. NBL dan KTC menggelar ritual Nyanggar di Desa Pendreh Kecamatan Teweh Tengah Kabupaten Barito Utara Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Ritual Nyanggar merupakan salah satu tradisi atau hukum adat di Desa Pendreh. Dengan maksud dan tujuan, memberikan makan kepada penghuni hutan di wilayah areal tambang, serta meminta keselamatan dan kesuksesan dalam usaha di wilayah tersebut. Itulah adat budaya setempat yang hingga saat ini harus tetap dijaga dan lestarikan.

Baca juga : Dinilai Meresahkan, Mensos Keluarkan Surat Edaran Larangan Ngemis di TikTok

“Ritual Nyanggar dilaksanakan masyarakat adat dan Pisur Basir Ritual di wilayah Desa Pendreh. Adapun dalam penyampaian pelaksanaan ritual, dana yang digunakan adalah dari pihak PT. NBL”, uajr Sugian selaku Ketua Panitia Pelaksana Ritual Nyanggar.

Dilain pihak, Irawan selaku Kepala Desa Pendreh menyampaikan, “Saya sangat salut terhadap pimpinan manajemen PT. NBL yang sangat menghargai ukum adat istiadat di wilayah ijin usaha pertambangan (IUP) mereka yang ada di Desa Pendreh. Pihak perusahaan selalu siap bersatu padu dalam melaksanakan ritual adat setempat dan menjujung tinggi adat istiadat  di wilayah ijin usaha pertambangan yang mereka lakukan”, ungkap Irawan.

Ritual Nyanggar

Ditambahkannya, “Kami juga berharap kepada beberapa perusahaan lain yang berusaha di wilayah hukum adat Desa Pendreh agar bisa menghargai adat budaya leluhur di wilayah Desa Pendreh. Besar harapan kami, perusahaan yang lain bisa menghormati adat leluhur kami”, ucapnya.

Baca juga : Diperiksa KPK, Hercules Kepalkan Tangan ke Arah Wartawan

Ada pun dari pihak PT. NBL yang diwakili oleh Ari menyampaikan, “Ucapan terimakasih kepada lapisan  masyarakat, ketua panitia, dan kepala desa. Tanpa bantuan dari warga masyarakat Desa Pendreh, maka keinginan dan kemauan kami tidak mungkin terlaksana sesuai adat istiadat yang berlaku di Desa Pendreh”, ujarnya.

Salah satu perwakilan KTC juga menyampaikan, “Dimana bumi dipijak maka disitulah langit dijunjung”, katanya seraya mengucapkan terima kasih atas terlaksananya ritual adat ini.

Baca juga : Rapat Koordinasi Karhutla Samosir dan Urgensi Penataan Simpang Gonting

Perwakilan dari Pisur Basir (Sipritul), Wiliam Tojok menyampaikan, “Isi kegiatan ritual dan menyampaikan pantangan setelah dilakukannya (ritual) maka perusahaan dan warga setempat tidak boleh melakukan aktivitas selama 3 hari tiga malam di wilayah (ritual) tersebut. Kami sangat berharap pantangan sudah ditentukan jangan sekali kali dilanggar (palimara)”, ujarnya. (*Yurin)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *