JAS MERAH ; Penjara Banceuy, Inggit Garnasih, dan Indonesia Menggugat

KOTA BANDUNG, SINURBERITA.COM

Jas Merah adalah istilah yang populer di negeri ini. Semua pasti mengetahui makna singkatannya yaitu “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Istilah ini dipopulerkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1966. Itu merupakan pidato kepresidenan Bung Karno yang terakhir, karena pada tahun 1967, Bung Karno tidak lagi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Negara Indonesia sebagai bangsa yang besar perlu menghayati dan memahami sejarah perjuangan bangsa ketika para pejuang rela mengorbankan jiwa dan raga merebut kemerdekaan dari kaum penjajah. Tanpa jasa mereka itu, kita tidak akan menikmati suasana kemerdekaan saat ini.

Baca juga : Sang Merah Putih Berkibar di Puncak Gunung Padang dan Sanggabuana

Jas Merah menjadi istilah yang memotivasi kita untuk mengisi kemerdekaan dengan membangun bangsa dan negara serta jangan melupakan dan meninggalkan hakikat dasar perjuangan yang sudah diletakkan dalam komitmen yang termaktub dalam filosofi Pancasila, UUD 1945 dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Arifin dan Darsono, pegiat spiritual asal Depok mengunjungi mengunjungi beberapa tempat bagian dari perjuangan dan sejarah Bangsa ini. “Kami hari ini mengunjungi Penjara Banceuy, Rumah Bersejarah Inggit Garnasih, dan Gedung Indonesia Menggugat. Seperti yang diucapkan Bung Karno tentang Jas Merah, ini merupakan perjalanan yang perlu disampaikan ke generasi penerus bangsa dan negara agar tidak melupakan sejarah”, ujar Arifin dan Darsono kepada sinurberita.com.

Baca juga : “Merayu Alam Karena Kecantikan Karang Hawu”

Berikut ini tiga tempat bersejarah di Kota Bandung Provinsi Jawa Barat yang perlu dan wajib kita ketahui sebagai generasi penerus bangsa.

Penjara Banceuy

Penjara Banceuy adalah nama sebuah penjara di Kota Bandung yang identik dengan Presiden Pertama Indonesia Ir. Soekarno. Penjara ini berukuran 2,1 X 1,5 meter. Disitu hanya ada barang replika papan kecil beralaskan tikar anyam, teko dan gelas, serta baskom, juga beberapa photo Soekarno.  Di sekitaran penjara terdapat sedikit penjelasan sejarah mengenai Soekarno, dan di belakang penjara terdapat patung Soekarno yang sedang duduk sambil memegang buku dan pena bercat perunggu.

Patung Soekarno ini dibangun pada tahun 2015, bertepatan dengan peringatan Konferensi Asia Afrika lalu. Menilik dari sejarahnya, lapas ini memang identik dengan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Soekarno yang saat itu menjadi aktivis PNI (Partai Nasional Indonesia) ditangkap Belanda dan dijebloskan ke penjara ini pada bulan Desember 1929.  Makanya, penjara ini pun sampai sekarang identik namanya dengan Sokearno.

Untuk masuk ke monumen ini memang tidak dikenai biaya tertentu. Disana hanya ada sebuah kotak kecil yang bertuliskan kotak amal, yang akan digunakan untuk biaya pemeliharaan monumen ini.  Wisatawan dan pegiat spiritual datang kesini untuk mencari informasi saat Soekarno di penjara, ada juga yang berdoa, serta mengenang perjuangan Soekarno.

Inggit Garnasih

Inggit Garnasih lahir di tatar Sunda Bumi Parahyangan tepatnya di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung, 17 Februari 1888 dari pasangan Bapak Ardipan dan Ibu Amsi. Nama itu diberikan dengan penuh makna dan harapan, kelak menjadi anak yang tegar, segar, menghidupkan dan penuh kasih sayang.

Inggit Garnasih merupakan sosok pahlawan yang sebenarnya memiliki jasa yang sangat besar untuk kemerdekaan Indonesia, bagaimana tidak, Inggit Garnasih lah yang selalu setia mendampingi Soekarno dimasa-masa sulitnya, akan tetapi namanya tak pernah disebut dalam buku pelajaran. Bagi pembaca yang belum mengenal sosok Inggit Garnasih, beliau adalah istri kedua Soekarno yang membiayai perjuangan Soekarno mulai dari biaya kuliahnya hingga aktivitas politiknya. Selama ini nama Inggit Garnasih masih asing di telinga masyarakat Indonesia.

Dalam wawancara dengan wartawan beberapa hari setelah kabar meninggalnya Soekarno, Inggit Garnasih menyatakan bahwa harta pusaka peninggalan Soekarno adalah “Negara kita ini, untuk kita semua, untuk seluruh rakyat dan untuk semua keturunan bangsa kita”. Harta yang dimaksud adalah “kenangan yang tak terlupakan, yang ibu simpan di dalam hati, yang akan menemani ibu masuk ke dalam kubur”.

Kedua jawaban/pernyataan Inggit Garnasih itu sangat tepat, kalau ada harta yang Soekarno tinggalkan, yang pasti adalah Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Sedangkan jawaban kedua pun sangat tepat. Karena tidak ada orang lain, tidak ada wanita lain, bukan Fatmawati, Hartini, ataupun Dewi, yang memiliki kenangan yang indah, tetapi tak seindah kenangan Inggit Garnasih dengan Soekarno.

Dalam perkawinannya dengan Soekarno menjadikan Inggit memasuki dunia politik dan pergerakan kemerdekaan Indonesia yang lebih luas. Pengabdian dan perjuangan Inggit Garnasih, diantaranya:

  1. Menjadi saksi proses lahirnya Peserikatan Indonesia yang kemudian berubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tanggal 4 Juli 1927, dimana suaminya Soekarno sebagai ketua, Mr. Iskak sebagai sekretaris merangkap bendahara dengan anggota pengurusnya Mr. Samsi, Mr. Sartono, dan Ir. Anwari.
  2. Menjadi saksi lahirnya Sumpah Pemuda.
  3. Mendampingi kegiatan Soekarno dalam setiap perjalanan ke berbagai kota ataupun tempat-tempat pengasingan Soekarno.
  4. Dengan gigih dan tegar memberikan semangat hidup dan perjuangan kepada Soekarno pada saat dipenjara di Banceuy, Bandung. Meskipun harus bekerja mencari uang untuk kebutuhan hidupnya.
  5. Membantu memberikan materi (data) untuk referensi Soekarno ketika menyusun pembelaan yang berjudul ‘Indonesia Menggugat’ di depan Pengadilan Landraad Bandung tanggal 18 Agustus 1930.

Begitu besar peranan dan jasa Inggit Garnasih dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia serta ikut berperan dalam membentuk karakter dan pribadi pemimpin bangsa, untuk itu Pemerintah Republik Indonesia telah memberikan tanda jasa kepada beliau berupa,

  1. Tanda Kehormatan ‘Satyalantjana Perintis Kemerdekaan’, yang dianugerahkan pada tanggal 17 Agustus 1961 ketika beliau masih hidup.
  2. Tanda Kehormatan ‘Bintang Mahaputera Utama’ berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 073/TK/1997 tanggal 11 Agustus 1997, yang penyerahannya dilaksanakan pada tanggal 10 November 1997 di Istana Negara dan diterima oleh ahli warisnya yaitu Ibu Ratna Juami.

Indonesia Menggugat

Indonesia Menggugat adalah pidato pembelaan yang dibacakan oleh Soekarno pada persidangan di Landraad, Bandung pada tahun 1930. Soekarno bersama tiga rekannya, yaitu Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Dari balik jeruji Penjara Banceuy, Soekarno menyusun dan menulis sendiri pidato tersebut.

Sebagai Istri yang selalu membantu suaminya di kala senang dan sedih. Inggit Ganarsih, selain menjadi istri ia menjadi orang diluar Penjara. Ia membantu sang suami untuk mencari dan mengirimkan data serta dokumen untuk digunakan Soekarno sebagai referensi Menyusun pembelaan (Pledoi).

Dikutip dalam buku Soekarno Fatmawati, Inggit Garnasih dengan berani menyelundupkan data dan dokumen yang diperlukan suaminya. Agar tak ketahuan sipir penjara, ia menyembunyikan naskah tersebut dibalik kebayanya. Selama melakukan hal tersebut, Inggit tidak ketahuan oleh sipir penjara. Jerih payah Inggit ini membuat Soekarno berhasil menyusun pembelaannya yang terkenal, Indonesia Menggugat, yang dibacakan di Landraad Bandung pada 18 Agustus 1930.

Pengorbanan dan kesetiaan cinta yang dilakukan oleh Inggit tidak hanya berlangsung sekali. Tetapi Inggit selalu menengok Suaminya di penjara demi mengirimkan makanan setiap harinya. Pastinya tidak hanya makanan, Inggit juga selalu membawakan Infomasi diluar penjara kepada Soekarno.

Isi pidato Indonesia Menggugat adalah tentang keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajah. Pidato pembelaan ini kemudian menjadi suatu dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme. (*red)

Mungkin Anda juga menyukai

7 Respon

  1. September 19, 2022

    […] Baca juga : JAS MERAH ; Penjara Banceuy, Inggit Garnasih, dan Indonesia Menggugat […]

  2. September 20, 2022

    […] Baca juga : JAS MERAH ; Penjara Banceuy, Inggit Garnasih, dan Indonesia Menggugat […]

  3. September 20, 2022

    […] Baca juga : JAS MERAH ; Penjara Banceuy, Inggit Garnasih, dan Indonesia Menggugat […]

  4. September 22, 2022

    […] Baca juga : JAS MERAH ; Penjara Banceuy, Inggit Garnasih, dan Indonesia Menggugat […]

  5. September 26, 2022

    […] Baca juga : JAS MERAH ; Penjara Banceuy, Inggit Garnasih, dan Indonesia Menggugat […]

  6. September 26, 2022

    […] Baca juga : JAS MERAH ; Penjara Banceuy, Inggit Garnasih, dan Indonesia Menggugat […]

  7. September 26, 2022

    […] Baca juga : JAS MERAH ; Penjara Banceuy, Inggit Garnasih, dan Indonesia Menggugat […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.