Konservasi Elang Jawa Gugah Kepedulian Generasi Muda

Sukabumi, sinurberita.com

Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) melakukan kegiatan Sosialisasi Program Konservasi Elang Jawa di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad, Sukabumi. Sosialisasi yang terlaksana atas kerja sama dengan Taman Safari Indonesia (TSI), PT. Smelting, dan Filantra ini bertujuan untuk memperkenalkan pentingnya kegiatan konservasi elang jawa dan habitatnya kepada generasi muda, sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta, bangga, dan peduli terhadap pelestarian elang jawa secara berkelanjutan. 

“Melalui sosialisasi Pendidikan Konservasi Elang Jawa ini diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan, pemahaman untuk meningkatkan kesadaran, dan kepedulian semua pihak akan pentingnya melestarikan satwa langka ini agar dapat diwariskan kepada para generasi mendatang secara berkelanjutan,” ujar Indra Eksploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam sambutannya.

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), merupakan satu dari empat jenis elang yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Jenis elang lain yaitu Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), dan Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) dengan keberadaan di alam masih relatif terjaga.

Indra menjelaskan jika kondisi alam TNGGP secara umum cukup mendukung kehidupan elang pada habitat aslinya, dengan bentang alam yang sesuai (lembah tempat berburu, bukit, pohon yang tinggi tempat mengincar mangsa, kelimpahan pakan, serta aktivitas manusia yang masih tergolong tidak terlalu tinggi). Terlebih dengan terus dilakukan upaya restorasi pada kawasan yang terdegradasi (eks hutan produksi yang beralih fungsi menjadi kawasan konservasi). 

“Kondisi ekosistem di TNGGP diharapkan dapat kian mendukung kehidupan berbagai satwa,” imbuh Indra.

Keberadaan Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad dibangun pada tahun 2020 melalui sumber dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan beberapa pertimbangan, yaitu: pertama, karena sejarah, dimana terdapat beberapa peninggalan Keluarga Bartels sebagai penemu elang jawa (Nisaetus bartelsi) berupa makam dan tapak rumah tinggal yang saat ini difungsikan menjadi museum. Kemuadian juga karena telah banyak upaya-upaya pelestarian elang jawa sebagai penguatan fungsi pengelolaan taman nasional, khususnya tentang konservasi elang jawa, yang terintegrasi dengan pelayanan kepada pengunjung terutama wisatawan minat khusus, sehingga memberikan kesan tersendiri ketika berwisata ke Cimungkad. 

Yang juga menjadi alasan dibangun di Cimungkad juga adalah agar  menjadi sarana edukasi bagi masyarakat setempat tentang keberadaan, proses penyelamatan serta rehabilitasi satwa elang jawa, yang diupayakan terus terintegrasi dengan beberapa pihak pengelola seperti Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) TNGHS di Loji, Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) BBKSDA Jawa Barat, Taman Safari Indonesia (TSI). Hal ini penting agar tumbuh kepedulian di masyarakat sekitar terkait keberadaan Elang jawa disekitar tempat tinggal mereka.

Sejak tahun 2018 TSI yang merupakan Lembaga Konservasi (LK), bekerja sama dengan PT. Smelting serta dukungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk melaksanakan program pengembangbiakan elang jawa secara ex-situ. Saat ini TSI memiliki elang jawa sebanyak 14 individu yang berasal dari 3 pasang indukan dan berhasil mengembangbiakan anakan sebanyak 8 individu. Dari anakan hasil breeding ini, sebagian sudah dipersiapkan sebagai kandidat program pelepasliaran sebagai upaya mendukung pelestarian berkelanjutan spesies tersebut.

PT. Smelting sendiri merupakan perusahaan yang beroperasi di Gresik, Jawa Timur. PT. Smelting memiliki komitmen melakukan pengabdian masyarakat dan lingkungan tidak hanya di Jawa Timur namun di seluruh Indonesia. Hal ini sesuai dengan filosofi perusahaan yaitu untuk setiap orang, masyarakat, dan bumi. 

Pada implentasinya PT. Smelting melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa di Desa Cikahuripan dan Desa Muara Dua untuk dapat menjadi Desa Wisata, dengan mengusung tema “Balik Ka Bumi” yang secara simbolis saat itu dibuka oleh Bupati sendiri (Bupati mana) pada tanggal 14 Desember 2019, selama kurun waktu itu tersebut PT. Smelting telah melakukan banyak kegiatan training untuk pengembangan soft skill pemuda setempat dan pemberian bantuan seperti pembekalan pendidikan konservasi, pelatihan pengelolaan bank sampah, pelatihan pengembangan e-commerce bagi produk kerajinan tangan, media informasi di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa, serta Pembangunan Saung “Balik Ka Bumi” yang merupakan rest area wisata yang di dalamnya terdapat penjualan kerajinan setempat, oleh-oleh dari UKM lokal, café dan kuliner yang dikelola para pemuda setempat.

Turut hadir dalam sosialisasi ini, Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Kepala BBTNGGP, Perwakilan TSI, PT. Smelting, Filantara, serta komunitas pecinta alam, masyarakat sekitar, juga siswa-siswi SD sekitar.(*HMS/J2r)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.