Melarang Riek Liau pada Ritual Wara Terkesan Menodai Kepercayaan Umat Kaharingan dan Tradisi Suku Dayak

BARITO UTARA, SINURBERITA.COM

Polemik upacara Ibadah rukun ritual kematian tingkat akhir umat Kaharingan yang disebut Wara atau Gomeq di Kabupaten Barito Utara Provinsi Kalimantan Tengah semakin hari semakin menuai pro-kontra di kalangan masyarakat dan media sosial (Medsos).

Memang tidak dipungkiri pada tempat-tempat tertentu selama ini upacara Ritual Wara selalu dimanfaatkan untuk berjudi oleh sebagian oknum seperti bulan-bulan belakangan ini di sekitar KM. 8 Lintas Muara Teweh – Puruk Cahu, tetapi cara pembenahannya jangan sampai menodai dan menista kepercayaan kami asli umat kaharingan, tutur Robinson selaku Demang Kaharingan saat mendatangi Kantor IWO Barito Utara (30/6/2022)

Selain itu Robinson juga berharap, “Supaya pada setiap pemimpin agama dapat menata jalan ibadahnya masing-masing dan saya sepakat jika mereka Hindu mengatakan acara Ngaben tidak ada Riek Liau. Tetapi karena mereka mengatakan Wara atau Gomeq tidak ada Riek Liau, jelas semua umat kaharingan terluka keberatan karena ritual Wara atau Gomeq tidak Sah tanpa Riek Liau tetapi bukan judi,” tutur Robinson.

Baca juga : Pemkab Pastikan Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia di Purwakarta

Disamping komplen, Robinson pun menyetujui, “Jika terkait ritual kehidupan, hajatan, selamatan atau pembersihan jiwa manusia yang masih hidup seperti Nalin Olo atau Nalin Taun, Ngonteng atau Ngaluing, Nyiwah atau Bokas, Ngejarung atau Bontang itu tidak ada Riek Liau atau Usik liau. Tetapi jika terkait Wara, Gomeq, Nyalimat dan Ngelangkang itu adalah acara ritual kematian, sehingga disebut (LIAU) maka acara ritual tidak sah tanpa Riek Liau,” ujarnya menambahkan.

“Jadi kepada oknum yang tidak mengerti tata ibadah kepercayaan kaharingan jangan coba-coba ambil kesempatan untuk menista kepercayaan kami. Karena selama ini kami sudah berdarah-darah bersama tokoh masyarakat, rekan-rekan media dan penegak hukum untuk berjuang membenahi supaya tidak lagi seperti tahun-tahun kemaren pernah sampai 3 bulan lebih Wara terus-menerus di lingkungan kediaman oknum Ketua MDA-HK Kabupaten hingga sekarang baru bagaikan maling kesiangan”, ungkap Robinson dengan nada kecewa.

Baca juga : Loka Karya Mini Lintas Sektor UPT Puskesmas Puruk Cahu

“Adapun kekecewaan kami karena minilai oknum-oknum MDA-HK yang memdeklarasi seperti tidak memiliki ketentuan agama sehingga tidak komitmen sebagaimana buku kesepakatan antara MDA-HK Nomor: 17/MDAHK/BU/VIII/2022 & MAKI Nomor:39/MAKI.BU/VIII/2019. Tentang Ketentuan Pelaksanaan Upacara Wara/Gomeg Di Kabupaten Barito Utara, Sehingga kami pandang deklarasi sepihak menodai upaya dan melakukan pencemaran nama baik lembaga Sah kami Majelis Kaharingan”, tutup Robin

Kembali Robin menambahkan, kami sepakat jika bagaimana cara bersama mengawasi dan mengantisipasi supaya jangan lagi Ritual Wara dimanfaatkan untuk berjudi seumpama pada acara Wara tidak dibenarkan mendabling acara Mijom Apui Natong, kecuali langsung duduk balian wara. Tetapi jangan juga sampai menghilangkan Riek Liau dari bagian ritual”, ujarnya. (*Yurin)

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Juli 2, 2022

    […] Baca juga : Melarang Riek Liau pada Ritual Wara Terkesan Menodai Kepercayaan Umat Kaharingan dan Tra… […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.