Raker BEM UNISA, Sekda Dian : Mahasiswa Harus Menumbuhkan Kompetensi 4C

KUNINGAN, SINURBERITA.COM

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar, M.Si memberikan arahan dan materi pada kegiatan Sidang Pleno dan Rapat kerja Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Al-Ihya Kuningan dengan Tema “Penataan dan Optimalisasi Rencana Kerja Guna terwujudnya BEM Unisa yang Berdaya dan Mewujudkan Karya” bertempat di Villa Kampung Gunung, Pesona Alam, Cipari, Kuningan, Senin (25/9/2022).

Baca juga : JAS MERAH ; Penjara Banceuy, Inggit Garnasih, dan Indonesia Menggugat

Sekda Dian dalam materinya menyampaikan tentang partisipasi mahasiswa dalam pembangunan, secara umum ada 5 peran yang dapat dilakukan oleh mahasiswa dalam pembangunan, yaitu : 

(1) Mahasiswa Sebagai Agent of change, Peran mahasiswa yang satu ini sudah tidak asing lagi, sebagai agent of change mahasiswa berperan sebagai penggerak masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi dengan menggunakan ilmu, gagasan serta pengetahuan yang dimiliki. Mahasiswa adalah golongan yang harus menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan, sebab di pundak mahasiswa terdapat titik kebangkitan untuk bangsa dan negara.

(2) Mahasiswa sebagai Guardian of Value,  Mahasiswa sebagai Guardian of Value  berarti mahasiswa adalah penjaga nilai-nilai dalam masyarakat. Nilai- nilai seperti apakah yang harus dijaga? tentu sebagai mahasiswa kaum intelektual harus menjaga nilai-nilai yang bersifat mutlak kebenarannya seperti kejujuran, keadilan, gotong royong, integritas, empati dan lain sebagainya. Sebagai Guardian of Value, mahasiswa tidak hanya berperan dalam menjaga, namun juga sebagai pembawa, penyebar dan penyampai nilai-nilai itu sendiri. 

Baca juga : Sang Merah Putih Berkibar di Puncak Gunung Padang dan Sanggabuana

(3) Mahasiswa sebagai Iron Stock, Peran mahasiswa sebagai Iron Stock yaitu mahasiswa adalah generasi penerus bangsa. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda. Mahasiswa merupakan aset, cadangan dan harapan bangsa di masa depan, sehingga mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan dan perilaku terpuji untuk dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya.

(4) Mahasiswa sebagai Moral Force, Mahasiswa berperan sebagai Moral Force dalam masyarakat. Sebagai insan akademis, tingkat intelektual yang dimiliki mahasiswa akan disejajarkan dengan tingkat moralitasnya. Mahasiswa dianggap memiliki tingkat pendidikan yang tertinggi sehingga sebagai mahasiswa harus memiliki moral yang baik pula. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan dapat menjadi contoh dan penggerak perbaikan moral pada masyarakat. Segala tingkah laku mahasiswa akan diamati dan dinilai oleh masyarakat. Untuk itu mahasiswa harus pandai menempatkan diri, beradaptasi dan hidup berdampingan di tengah-tengah masyarakat.

Baca juga : Nunggak Sejak 2017, Ketua Banggar Minta Disdik Bayar Hutang Guru Honor

(5) Social Control,  Peran mahasiswa sebagai Social Control  yaitu mahasiswa diharapkan mampu menjadi pengontrol sebuah kehidupan sosial pada masyarakat dengan cara memberikan saran, kritik serta solusi untuk permasalahan sosial masyarakat maupun permasalahan bangsa. Sebagai kaum dengan kemampuan intelektual serta sikap kritis yang tinggi, mahasiswa dapat menjadi jembatan bagi masyarakat untuk melawan terhadap kebusukan yang terjadi dalam birokrasi yang selama ini dianggap lazim, untuk terciptanya pembangunan yang lebih baik bagi negeri ini.  Tentunya sekali lagi kritik disampaikan dengan santun, dengan data dan informasi yang akurat, menawarkan solusi.  Jadi kritik yang disampaikan itu bernas, bukan kritik solutip ala Bu Tejo yang gayanya nyinyir dan julid tapi tidak memberikan solusi yang sesungguhnya.  Pemerintah daerah itu tidak anti kritik, tetapi kalau hanya disampaikan tanpa menawarkan solusi sepertinya tidak akan menyelesaikan masalah yang sesungguhnya.  Ide-ide segar, gagasan kreatif dan inovatif adalah yang dibutuhkan oleh pemerintah saat ini.

“ Adik-adik yang saya banggakan,  saya mengajak teman-teman BEM Unisa untuk berpikir Out Of The Box” ucapnya.   Saat ini kita sudah berada di era konsep, sehingga berpikir out of the box itu penting. Berpikir out of the box adalah bagaimana kita berpikir dan kemudian menciptakan gagasan di luar kebiasaan yang ada untuk menjawab suatu tantangan, sambung Dian.

Baca juga : Rapat Koordinasi Karhutla Samosir dan Urgensi Penataan Simpang Gonting

Adik-adik BEM Unisa yang saya banggakan, saya berharap adik-adik BEM Unisa ini akan menjadi pelopor dalam pembangunan daerah. Saya percaya dalam rapat kerja ini akan menghasilkan ide-ide segar yang jauh lebih out of the box dan membawa manfaat bagi diri sendiri, bagi kampus dan bagi daerah.  Jadilah mahasiswa yang tidak hanya pandai menyuarakan kepentingan masyarakat tapi juga handal memberikan solusi dalam setiap persoalan masyarakat.  

Kemudian Dian juga meminta mahasiswa menumbuhkan kompetensi 4C. Kompetensi 4C itu adalah Critical Thinking, Communication, Collaboration, dan Confidence. 

Dian menjelaskan, Critical Thinking atau berpikir kritis merupakan kompetensi yang harus dimiliki para akademisi, yang kemudian dilanjutkan dengan berpikir kreatif. Communication merupakan keterampilan atau kemampuan berkomunikasi untuk berbicara dan menulis dengan modal kemampuan berbahasa Indonesia dan bahasa asing. Collaboration yaitu kerja sama dalam belajar dan berlatih bersama-sama. Dan Confidence yaitu percaya diri dengan almamater dan kemampuan dirinya.

Baca juga : Sejarah Panjang Polri, 7 Jenderal Umumkan Ferdy Sambo Tersangka

Sekda Dian berpesan kepada seluruh Mahasiswa dan Mahasiswi UNISA agar menumbuhkan kompetensi 4C untuk menggapai keberhasilan di masa depan.

“4C itu harus tumbuh. Hanya empat tapi berat. Tapi, jika mahasiswa bisa memenuhi, Insya Allah pasti Allah akan meridhoi kalian untuk meniti karier, merintis keberhasilan kalian dari UNISA ini,” Tutup Dian. (*J2r/HMS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *