Rapat Koordinasi Karhutla Samosir dan Urgensi Penataan Simpang Gonting

SAMOSIR, SINURBERITA.COM

Sumatera Utara adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki 3 jutaan hektare lebih areal Hutan. Melihat luasnya hutan yang ada di Sumatera Utara, bukanlah pekerjaan yang mudah untuk mempertahankan atau merawat hutan itu sendiri. Tidak hanya peran serta masyarakat luas atau organisasi pecinta lingkungan hidup, namun peran penting pemerintah setempat juga harus peka dan peduli  terhadap keberlangsungan hutan itu sendiri.

Baca juga : Sejarah Panjang Polri, 7 Jenderal Umumkan Ferdy Sambo Tersangka

Kabupaten Samosir contohnya, bukan sedikit hamparan hutan terdapat Kawasan Cagar Alam Geologi yang berada di zona peta wilayah Samosir. Apalagi, kawasan Danau Toba sudah mencuri perhatian dunia melalui UNESCO yang menetapkan Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark. Penetapan ini, memberikan kesempatan dan sekaligus juga tanggung jawab bagi Indonesia, khususya bagi masyarakat setempat. Pada saat yang sama, dengan adanya pengakuan dan perhatian dunia terhadap Kaldera Toba, Pemerintah dan masyarakat setempat berkewajiban untuk  meningkatkan dan terus menjaga kelestarian lingkungan dan keutuhan dari Kawasan Kaldera Toba.

Baca juga : PDIP Walk Out, Kejati Sumut Diminta Periksa LPJ Bupati Samosir TA 2021

Salah satu yang menjadi bahan perbincangan publik belakangan ini adalah tentang adanya kegiatan Penataan Kawasan Simpang Gonting yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Samosir. Lokasi ini berada di Jalan Arianboho Desa Turpuk Limbong Kecamatan Harian Kabupaten Samosir.

Kawasan Cagar Alam Geologi

Untuk diketahui bersama, di dalam Peraturan Presiden No 81 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Toba Dan Sekitarnya menjelaskan secara detail bahwa Kecamatan Harian Kabupaten Samosir masuk Zona lindung 5 (Zona L5) yang merupakan Kawasan Lindung Geologi yakin, Kawasan Cagar Alam Geologi yang terdapat di Sesar Tebing Kaldera Danau Toba yang mencakup kawasan Panatapan Tele, Tufa Toba yang mencakup Kelokan Tele, Kawasan Air Terjun Sampuran Efrata Kawasan Air Terjun Binanga. Jarak ketiga lokasi Kawasan Lindung Geologi tersebut adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan dari wilayah Kecamatan Harian Kabupaten Samosir, termasuk juga Kawasan Simpang Gonting.

Baca juga : Kemeriahan Acara Malam Pujian dan Dana HKBP Rogate Distrik XXI Banten

Perlu diketahui, di dalam peta lampiran Perpres tersebut dapat kita lihat, Kecamatan Harian terlihat dilintasi simbol berwarna cokelat yang menandakan istilah Sesar (Patahan Geologi). Tidak menutup kemungkinan, segala aktivitas yang merusak hutan atau kawasan hutan lindung geologi, baik kawasan pendukung lainnya akan berdampak di kemudian hari.

Mengutip Wikipedia, “Dalam geologi, Sesar atau patahan adalah fraktur planar atau diskontinuitas dalam volume batuan, dimana telah ada perpindahan signifikan sebagai akibat dari gerakan massa batuan. Sesar-Sesar berukuran besar di kerak bumi merupakan hasil dari aksi gaya lempeng tektonik, dengan yang terbesar membentuk batas-batas antara lempeng, seperti zona subduksi atau sesar transform. Energi yang dilepaskan menyebabkan gerakan yang cepat pada sesar aktif yang merupakan penyebab utama gempa bumi. Menurut ilmu geofisika, sesar terjadi ketika batuan mengalami tekanan dan suhu yang rendah sehingga sifatnya menjadi rapuh.

Baca juga : AMPLAS CENTER DIDUGA JADI SARANG PERJUDIAN

Akan hal tersebut, Pemkab Samosir diminta untuk mempertimbangkan kembali dari segi aspek keberlangsungan alam yang ada di sekitar Kawasan Simpang Gonting. Dampak kerusakan alam tidak akan berdampak secara langsung atau instant. Biarlah hutan terjaga dengan sendirinya, tanpa harus ditata atau dieksploitasi atas nama pemerintah daerah.

Apalagi saat ini telah terjadi 15 kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Samosir selama periode Juli hingga Agustus 2022. Sunguh sangat ironis, disamping terjadinya kerusakan alam di kawasan Simpang Gonting, pemerintah daerah menggelar Rapat Koordinasi Operasi Kontijensi Aman Nusa II Toba 2022 dalam rangka Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla di Kabupaten Samosir pada Selasa, 9 Agustus 2022.

Dalam rapat tersebut dihadiri oleh Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Drs. R. Z. Panca Putra S, M.Si, Bupati Samosir Vandiko T. Gultom, Wakil Bupati Samosir Martua Sitanggang, Asops Kasdam I/BB Kol. Inf Hindratno Devidanto, Kepala BPBD Provsu Abdul Haris Lubis, Kepala KPH Dolok Sanggul Benhard Purba, Pimpinan Perangkat Daerah, Camat dan Kepala Desa.

Menjadi pertanyaan besar, apakah kerusakan alam di Kawasan Simpang Gonting menjadi pembahasan di dalam rapat tersebut?. (*red)

Mungkin Anda juga menyukai