Revolusi Industri 4.0, Dr. Wahyu : TIK Bangkit Pasca Pandemi

KUNINGAN, SINURBERITA. COM

KUNINGAN- Mahasiswa baru FKOM UNIKU menerima pembekalan melalui Seminar menumbuhkan ide kreatif pada mahasiswa sebagai peluang membangun talenta digital dalam menghadapi perkembangan Revolusi Industri 4.0 dengan menghadirkan Narasumber Tito Sugiarto, M.M.Eng, Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Dr. Wahyu Hidayah, M.Si, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kuningan, bertempat di Basement FKOM UNIKU Kampus II, Selasa (13/9/2022).

Baca juga : Sang Merah Putih Berkibar di Puncak Gunung Padang dan Sanggabuana

Dr. Wahyu Hidayah, M.Si, menyampaikan materi Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) Bangkit Pasca Pandemi Covid-19. Ia menerangkan, disaat sektor lain terpuruk akibat adanya Pandemi Covid-19, namun TIK menjadi sektor yang paling cepat pulih dan berkembang.

“TIK merubah tatanan kehidupan yang ditransformasikan kearah digital, seperti E-Learning, pembelajaran yang memanfaatkan teknologi, E-Commerce, jual beli menggunakan teknologi, E-sports, Game olah raga elektronik yang dikompetisikan, E-Government, penyelenggaraan pemerintahan yang berbasis elektronik,” ungkapnya pada acara Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa (PKKMB) FKOM ini.

Untuk menghadapi perkembangan Revolusi Industry 4.0 dan Era Society 5.0. Dr. Wahyu menjelaskan, dimana saat ini perekembangan ilmu pengetahuan akan inovasi-inovasi terus diperbaharui. Sehingga dituntut untuk hidup berdampingan dengan teknologi, menguasi dan memanfaatkannya. Internet bukan hanya digunakan untuk sekedar berbagi informasi melainkan untuk menjalani kehidupan.

“Untuk itu bersahabatlah dengan perubahan, begitu juga perubahan tranformasi digital. Perubahan itu berat pada awalnya, kacau di tengah-tengahnya, dan sangat indah pada akhirnya. Seiring perjalalan perubahan ini mulanya dipaksa, terpaksa, bisa, biasa budaya digital,” katanya.

Baca juga : Berprestasi, Dua Pelajar Asal Pakpak Bharat Ikuti Kompetisi ASMOPSS di Jakarta

Tranformasi digital disebutkan Kadis Wahyu, membuka peluang seperti membuka Toko Online, Menekuni Bisnis Afiliasi, Menjadi Seorang Youtuber, Menjajal Bisnis Dropship, Menjadi Blogger Terkenal, Menjadi Influencer, Menulis Konten Digital, Mengajar Online, Menawarkan Jasa Pembuatan Website, Membuat Aplikasi Mobile, Menjual Produk Digital, Konsultan SEO, Menjadi Seorang Podcaster, Fintech, Cloud Hosting, Service on Demond, Telemedicine.​

“Kemampuan Digital harus dimiliki karena sangat dibutuhkan. Riset terbaru yang dirilis Amazon Web Services, Inc. salah satu perusahaan milik Amazon.com. Dibutuhkan 110 juta pekerja digital di Indonesia pada tahun 2025, dan pekerja dengan keahlian di bidang cloud akan sangat dicari termasuk oleh perusahaan non teknologi. Kepada para sahabat semua yang lahir sebagai generasi Z, Mahasiswa UNIKU agar mencintai jurusan yang diambil, mencintai kampus, mencintai mata pelajaran dan bangga dengan Universitasnya yang telah terbukti mampu bersaing dalam hal TIK” tuturnya.

Didepan para mahasiswa, Ia juga menjelaskan adanya Generasi Z atau Generasi Pasca Milenial, yaitu kelompok manusia termuda di dunia saat ini. Mereka lahir dalam rentang 1995 hingga 2010 di Indonesia, pada 2010 saja jumlah mereka  sudah lebih dari 68 juta orang, nyaris dua kali  lipat Generasi X (kelahiran 1965-1976). Dan kini ada sekitar 2,5 miliar orang Generasi Z di seluruh dunia.

“Generasi Z secara umum memiliki karakteristik, yaitu mereka lahir pada zaman digital, kehidupan sosialnya lebih banyak dihabiskan  dengan memanfaatkan dunia maya, multitasking (kecenderungan melakukan banyak  hal dalam waktu yang bersamaan), Ingin mendapat pengakuan, dan Memiliki ambisi yang besar, dan Menyukai kampanye yang kekinian,” jelasnya.

Baca juga : Nunggak Sejak 2017, Ketua Banggar Minta Disdik Bayar Hutang Guru Honor

Lebih lanjut ia mengatakan, Mahasiswa sebagai generasi penerus agar dapat bersaing dengan dunia luar seiring perkembangan dunia teknologi yang semakin maju dan berkembang, selain memiliki kemampuan digital sebagai salah satu pilar literasi digital yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dan hal lain yang harus dipahami, mampu membangun wawasan kebangsaan dalam berinteraksi diruang digital (Digital Culture), menyesuaikan diri berpikiran rasional dan mengutamakan etiket (Digital Ethics), serta meningkatkan kesadaran perlindungan dan keamanan data pribadi (Digital Safety). Jadi yang terpenting untuk bersaing TIK dengan dunia luar adalah tidak mengedepankan Individualistis,” pesannya. (*red/HMS)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.