Si Manis dari Parungbanteng

PURWAKARTA, SINURBERITA.COM

Sukasari merupakan kecamatan yang berada di ujung barat Kabupaten Purwakarta. Selain alamnya yang indah dan menyimpan potensi wisata, di Sukasari juga banyak potensi yang bisa digali untuk meningkatan perekonomian warganya. Salahsatunya, gula aren yang diproduksi warga Desa Parungbanteng.

Tanaman aren yang menjadi bahan pembuatan gula merah itu masih banyak ditemukan di Kampung Cibodas, Desa Parungbanteng. Warga setempat memanfaatkan nira aren untuk diolah menjadi gula merah yang dicetak menggunakan bambu ataupun batok kelapa.

Baca juga : Walikota dan Anggota DPRD Tanjungbalai Studi Banding Program Long Beach Samosir

“Jajaran Pemkab Purwakarta melalaui perangkat daerah terkait terus mendorong peningkatan dan pemanfaatan berbagai potensi yang ada dengan ikut mengenalkan produk-produk lokal dari warga Purwakarta,” kata Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika saat menerima kunjungan Kepala Desa Parungbanteng dan Camat Sukasari untuk mengenalkan produk unggulan gula aren khas Desa Parungbanteng, di Bale Nagri, Selasa (5/7) lalu.

Menurutnya, hasil inovasi dan motivasi dari Desa Parungbanteng ini dilakukan, agar gula aren mempunyai nilai jual yang lebih tinggi sehingga menjadi produk unggulan di Kecamatan Sukasari dan bisa meningkatkan taraf hidup para petani aren di wilayah tersebut. “Yuk kita sama-sama beli produk lokal untuk berkontribusi eksistensi produsen produk lokal dan membantu UMKM dalam berkreasi dan inovasi. Cintai produk lokal, UMKM tumbuh,” ajak Ambu Anne.

Baca juga : Wagub Jambi : Pemimpin Harus Memiliki Strategi Inovatif

Sementara Camat Sukasari, Bayu Permadi mengungkapkan, wilayahnya memiliki keindahan alam tersendiri. Gunung-gunung yang menjulang tinggi, serta panorama alam yang masih asri memiliki daya tarik tersendiri. Wajar saja, jika saat ini Kecamatan Sukasari akan diciptakan jadi zona wisata unggulan di Purwakarta. “Wilayah kami, memang cukup potensial untuk pengembangan pariwisata,” ujar Bayu.

Menurutnya, wilayah kerjanya memang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi sebuah obyek wisata berbasis alam. Apalagi, di wilayahnya terdapat banyak curug atau air terjun. Bukan hanya potensi pariwisata, wilayahnya juga sangat potensial untuk pengembangan produk UMKM tradisional. Sebut saja di antaranya, pengengbangan gula aren dan kopi khas Sukasari.

“Kita juga punya produk-produk UMKM khas masyarakat sekitar. Misalnya, ada produk gula aren ganduan yang dibuat oleh masyarakat di Desa Parungbanteng. Ada juga produk kopi khas Ciririp,” kata dia.

Baca juga : Sandiaga Uno Resmi Buka Tortor Digifest 2022

Bayu menambahkan, sejauh ini pemerintah terus berupaya untuk memperkenalkan produk-produk lokal tersebut supaya pasarnya bisa lebih luas. Dalam hal ini, pemerintah juga turut membantu dalam hal pengembangan produknya melalui pembinaan kepada para pelaku usahanya.

Seperti diketahui, belasan tahun silam masyarakat di Kecamatan Sukasari sempat terisolasi. Wajar saja, kala itu secara otomatis membuat perekonomian warga sekitar tidak bisa menggeliat. Terbatasnya infrastruktur darat di ke wilayah ini yang jadi kendalanya. Apalagi, dulu perahu hanya menjadi moda transportasi andalan warga yang bermukim di kecamatan tersebut. Karena, hampir seluruh aktifitas mereka, hanya bisa dilakukan melalui akses jalur air menggunakan perahu dengan menyeberangi Danau Jatiluhur.?

Baca juga : Dandim 1013/Mtw Hadiri HUT​ Bhayangkara​ ke​ 76

Namun, sejak 2017 lalu kerisauan masyarakat Sukasari pun sirna, seiring dibangunnya jalur darat penghubung antar kecamatan oleh pemerintah setempat. Alhasil, saat ini geliat perekonomian masyarakat di wilayah itu berangsur meningkat. Karena, dengan adanya akses darat yang memadai itu, ternyata cukup berimplikasi pada roda perekonomian masyarakat. Saat ini, mulai banyak bermunculan ekonomi kreatif yang tumbuh di masyarakat.

Gula Aren dalam Kemasan

Kini, prodak gula aren juga telah dikemas lebih apik agar memiliki nilai jual lebih tinggi. Susi Lestari, salah seorang warga Desa Parungbanteng memastikan kualitas produk packaging atau kemasan tetap terjaga dan aman dikonsumsi, karena tidak mengandalkan kemasan menarik saja melainkan lebih dari itu. “Dengan inovasi ini kita harap bisa terserap dan menjadi kebutuhan sehari-hari karena bentuknya seperti gula pasir,” ujar Susi.

Baca juga : LSM Bakon Gelar Sosialisasi “Desa Sadar Terhadap Bahaya Korupsi”

Menurutnya, sejauh pemasaran juga dilakukan melalui media sosial dan kerabat terdekat di sekitar Sukasari. Oleh karena itu, perhatian dan dukungan pemerintah sangat diperlukan terutama dalam hal promosi dan membangunkan jejaring pasar. “Walaupun awalnya hanya produksi sesuai pesanan saja, namun saat ini sudah mulai ready stok. Pemasaran memang masih terbatas, kami harap pemerintah andil dalam hal pemasaran,” ujar Susi.

Kata Susi, warga juga mulai berinovasi membuat produk turunan aren yang lebih modern, menarik, dan mampu diserap pasar zaman now selain pasar tradisional. “Hasil inovasi dan motivasi dari  Patriot Desa Parungbanteng. Inovasi ini dilakukan agar gula aren mempunyai nilai jual yang lebih tinggi sehingga bisa meningkatkan taraf hidup para petani aren di Desa Parungbanteng,” ujarnya.

Baca juga : Pemkab dan Kejari Purwakarta Tandatangani MoU Penanganan Masalah Hukum Bidang Datun

Saat ini, sambung dia, banyak rumah tangga di seputar Kecamatan Sukasari yang biasanya menggunakan gula rafinasi atau gula pasir, mulai beralih ke gula semut yang berasal dari gula aren. “Dulu kan gula merah tradisional hanya digunakan saat puasa, lebaran atau maulud saja. Tapi dengan inovasi ini kita harap bisa terserap dan menjadi kebutuhan sehari-hari karena bentuknya seperti gula pasir,” ujar Susi seraya mengucapkan terimakasih kepada jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Purwakarta dan para pihak terkait lainnya yang telah membantu mengenalkan produk lokal dari Desa Parungbanteng ini. Semoga si manis dari Parungbanteng ini juga bisa berbuah manis untuk perekonomian warga. (*J2r/hms)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.