SINURBERITACOM | KOTA PEKANBARU
Zulwisman yang merupakan salah satu Dosen HTN/HAN FH UNRI menyebutkan, sebagaimana telah tercantum, khususnya dalam Pasal 140 ayat (2) KUHAP, Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan dan Perja No. 15 Tahun 2020 tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif ujarnya kepada media ini, Rabu (12/02/2025).
“Maka sudah cukup rinci asas ini diatur, terutama di Perja, dan tentu ini menjadi dasar bagi Kejaksaan dalam Penegakan Hukum yang berkeadilan dalam Dimensi Hukum Administrasi Negara (HAN),” terangnya.
Ditambahkan Zulwiman, “Namun tentu Asas Dominus Litis ini harus lebih diterapkan pada tindak pidana khusus yang saat ini sudah berjalan dengan baik, tetapi bukan pada tindak pidana umum karena nantinya akan mempengaruhi pada proses penyidikan yang akan dilakukan oleh Polri secara porposional dan profesional,” terang Zulwisman.
Disisi lain, asas dominus litis juga sudah berjalan pada pra penuntutan oleh Jaksa, apakah perkara bisa dilanjutkan pada proses penuntutan, dihentikan penuntutan karena apakah karena tidak cukup alat bukti, pelaku/tersangka meninggal dunia atau bukan tindak pidana sebagai dasar pertimbangan penghentian penuntutan.
Zulwisman berharap, “Penegakan hukum di Indonesia perlu komunikasi dan koordinasi yang baik antara Kejaksaan dengan Kepolisian atau Criminal Justice Sistem (CJS) tanpa memasuki dan mencampuri kewenangan serta tidak intervensi penyidik dalam melakukan penyidikan,” pintanya.
Diakhir Zulwisman menerangkan, “Penyidik Polri dalam melakukan penyidikan tentu tetap harus dalam kemandirian/independesi yang tentunya telah diawasi oleh internal Polri (Wasidik) dalam melihat satu perkara sehingga tidak ada tumpang tindih kewenangan dalam pengawasan penyidikan,” pungkasnya. (*red)