JAKARTA, SINURBERITA.COM – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan campak menjelang periode mudik dan libur Lebaran. Mobilitas yang meningkat disinyalir berpotensi memperbesar risiko penyebaran penyakit menular, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Menurut data di Kemenkes, hingga pekan ke-8 tahun 2026, tercatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan 6 kematian. Selain itu, terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak yang terjadi di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.
Selain itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menyoroti maraknya narasi negatif terkait vaksin di tengah meningkatnya kasus campak. Ia menegaskan imunisasi merupakan cara yang paling efektif untuk melindungi anak dari penyakit tersebut.
“Campak ini yang meninggal sudah ada puluhan karena anaknya tidak diimunisasi. Padahal imunisasinya sudah ada dan efektif,” kata Budi di Kemeterian Kesehatan, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Baca juga: Astuty Aritonang Laporkan Akun Facebook Ganra Sihotang ke Polisi
Ia meminta masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang menyesatkan mengenai vaksin. Menurutnya, penyebaran hoaks justru dapat membahayakan keselamatan anak.
“Ini program yang menyelamatkan nyawa anak-anak kita. Tolong jangan menyebarkan berita yang malah mendorong ibu-ibu tidak memberikan vaksin,” ujar Budi.
Ia juga menjelaskan, campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi. Sehingga anak yang terinfeksi sebaiknya tidak beraktivitas di luar rumah agar tidak menularkan virus ke orang lain.
Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni mengatakan, tren kasus campak sempat meningkat pada Januari 2026, namun mulai menunjukkan penurunan sepanjang Februari.
“Tren kasus suspek campak meningkat pada Januari dan mulai menurun sepanjang Februari 2026. Hingga minggu ke-8 tahun ini tercatat lebih dari sepuluh ribu suspek campak. Pemerintah terus melakukan respons cepat untuk mencegah penularan yang lebih luas,” ujar dr. Andi dalam konferensi pers belum lama ini.
Baca juga: Biaya Koordinasi PTPN IV Kebun Adolina Rp1,7 Milyar Diduga Sarat Korupsi
Meski demikian, ia meminta masyarakat tetap waspada menjelang libur Lebaran, sebab aktivitas mudik dan kerumunan dapat mempercepat penularan penyakit.
“Menjelang mudik Lebaran, mobilitas masyarakat akan meningkat dan potensi kerumunan lebih besar. Karena itu masyarakat perlu tetap waspada terhadap penularan campak, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap,” ujarnya menambahkan.
Saat ini, pemerintah sedang mempercepat pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) dan Catch Up Campaign imunisasi campak-rubella (MR) di wilayah terdampak maupun berisiko. Program ini dilaksanakan di 102 kabupaten/kota dengan sasaran utama anak usia 9-59 bulan selama Maret 2026.
Rencananya, pelayanan imunisasi akan dilakukan melalui berbagai titik layanan seperti puskesmas, posyandu, PAUD dan TK, tempat ibadah, hingga pos pelayanan kesehatan saat mudik.
Kementerian Kesehatan mengajak para orang tua untuk segera memeriksa status imunisasi anak dan melengkapinya jika belum lengkap. Cakupan imunisasi minimal 95% diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok dan mencegah penyebaran campak di masyarakat. (*red/CNBC)



















