Waspada Love Scamming! Leli Maslina Ingatkan Bahaya Rayuan Manis di Aplikasi Pencari Jodoh

Leli Maslina, S.H

PEKANBARU, SINURBERITA.COM – Maraknya penggunaan aplikasi pencari jodoh di era digital membuka peluang bagi masyarakat untuk menemukan pasangan hidup. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan risiko penipuan berkedok cinta atau love scamming, manipulasi emosional, hingga eksploitasi finansial yang dapat merugikan korban secara materi maupun psikologis.

Pemimpin Redaksi media hallobintang.com, Leli Maslina, S.H., mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam membangun hubungan dengan seseorang yang baru dikenal melalui dunia maya.

Menurut Leli, keinginan untuk mendapatkan pasangan hidup merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, keinginan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, terutama ketika seseorang mulai merasa nyaman, percaya, dan berharap banyak terhadap hubungan yang baru terjalin.

“Jangan mudah menilai keseriusan seseorang hanya dari perhatian, rayuan, atau janji manis yang disampaikan. Dalam mencari pasangan hidup, kita perlu melihat konsistensi sikap, kejujuran, tanggung jawab, serta bagaimana seseorang menghargai batasan pribadi kita,” demikian pesan Leli.

Alumni Universitas Andalas (Unand) angkatan 2003 yang juga pernah menjadi tenaga pendidik ini menilai, literasi digital dan kemampuan mengenali perilaku manipulatif sangat penting untuk membangun hubungan yang sehat.

Komunikasi intens melalui aplikasi pencari jodoh, WhatsApp, panggilan video, bahkan pertemuan langsung, menurutnya, tidak serta-merta menjadi bukti ketulusan seseorang.

Lima Hal yang Perlu Diwaspadai Saat Mencari Jodoh

1. Kenali karakter dan keseriusan sejak awal

Tahap perkenalan menjadi kesempatan untuk mengenali karakter seseorang melalui cara berkomunikasi dan memperlakukan orang lain.

Orang yang memiliki niat baik semestinya mampu berkomunikasi dengan sopan, menghargai privasi, serta tidak memaksakan kehendak. Sebaliknya, perilaku merendahkan, melecehkan, memaksa meminta foto pribadi, atau membuat lawan bicara merasa tertekan perlu diwaspadai.

Meski demikian, karakter seseorang tidak dapat disimpulkan hanya dari satu percakapan. Konsistensi antara perkataan dan tindakan perlu diperhatikan seiring berjalannya waktu.

2. Jangan terlena rayuan dan janji pernikahan

Modus romance scam kerap memanfaatkan kedekatan emosional untuk membangun kepercayaan korban. Pelaku bisa memberikan perhatian berlebihan, mengumbar kata-kata romantis, bahkan menjanjikan pernikahan meskipun hubungan baru berlangsung beberapa hari.

Bagi orang yang sedang kesepian atau mendambakan pendamping hidup, perhatian semacam itu bisa terasa istimewa. Namun, ungkapan cinta tidak selalu menjadi bukti ketulusan.

Leli mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru memberikan kepercayaan hanya karena seseorang pandai merangkai kata-kata.

“Kenali seseorang secara bertahap. Jangan sampai keinginan untuk segera mendapatkan pasangan membuat kita mengabaikan tanda-tanda yang sebenarnya sudah terlihat sejak awal,” pesannya.

3. Waspadai panggilan mesra dan janji usaha bersama

Panggilan seperti suami istri, Mama Papa, Aby dan Umy, atau sebutan mesra lainnya dapat muncul ketika dua orang mulai merasa dekat.

Panggilan tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya penipuan. Namun, kewaspadaan diperlukan apabila kedekatan yang dibangun dengan cepat mulai digunakan untuk meminta uang, bantuan materi, atau keterlibatan dalam rencana usaha yang tidak jelas.

Janji membangun rumah tangga dan kehidupan bersama juga tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menyerahkan uang, memberikan pinjaman, atau melakukan transaksi keuangan tanpa pertimbangan matang.

Hubungan yang sehat, menurut Leli, harus memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling mengenal tanpa tekanan.

Keseriusan tidak semestinya diukur dari kesediaan seseorang memenuhi semua permintaan pasangannya, melainkan dari tanggung jawab, keterbukaan, dan sikap saling menghormati.

4. Kenali hubungan yang menguras materi dan pikiran

Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah hubungan yang didominasi permintaan dan tuntutan sepihak.

Seseorang mungkin berulang kali meminta bantuan keuangan, menuntut pasangannya selalu tersedia, atau memanfaatkan hubungan untuk kepentingan pribadi. Ketika permintaannya ditolak, ia justru menuduh pasangannya tidak mencintai atau tidak serius.

Pola semacam ini dapat menimbulkan tekanan emosional dan mengganggu keseimbangan kehidupan sehari-hari.

Leli mengingatkan bahwa mencari pasangan bukan berarti harus mengorbankan seluruh waktu, materi, pekerjaan, maupun ketenangan pikiran.

Hubungan yang sehat semestinya tetap memberikan ruang bagi setiap orang untuk mempertahankan kemandirian, menjalankan tanggung jawab, dan mengambil keputusan tanpa ancaman emosional.

5. Perhatikan pola perilaku, bukan lamanya hubungan

Perilaku manipulatif tidak selalu muncul dalam waktu singkat. Ada orang yang membangun kepercayaan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan sebelum mulai mengajukan permintaan tertentu.

Karena itu, lamanya hubungan tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran ketulusan.

Masyarakat perlu memperhatikan sejumlah tanda, seperti cerita yang terus berubah, identitas yang sulit diverifikasi, permintaan uang berulang kali, serta kecenderungan menghindar ketika diminta memberikan penjelasan.

Jika menemukan tanda-tanda mencurigakan, pengguna aplikasi sebaiknya mengambil jarak, menghentikan transaksi yang berisiko, serta meminta pendapat keluarga atau teman tepercaya sebelum mengambil keputusan.

Literasi Digital Jadi Benteng Perlindungan

Leli menegaskan, masyarakat tidak perlu takut menggunakan aplikasi pencari jodoh. Teknologi tetap dapat menjadi sarana positif untuk memperluas pergaulan dan menemukan pasangan dengan tujuan hidup yang sejalan.

Namun, pengguna perlu melindungi informasi pribadi, tidak membagikan kode OTP maupun kata sandi, serta tidak mudah mengirimkan uang kepada orang yang baru dikenal tanpa verifikasi memadai.

Jika berencana bertemu secara langsung, pilih tempat umum dan informasikan lokasi pertemuan kepada orang tepercaya. Apabila menemukan indikasi penipuan, simpan bukti percakapan dan transaksi, kemudian laporkan melalui platform terkait atau kepada pihak berwenang.

Sebagai Pemimpin Redaksi hallobintang.com, Leli mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam membangun hubungan di tengah perkembangan teknologi digital.

“Mencari jodoh bukan sekadar menemukan seseorang yang mampu membuat kita merasa dicintai, tetapi menemukan orang yang benar-benar menghargai, jujur, dan bertanggung jawab. Jangan biarkan kesepian membuat kita kehilangan kewaspadaan,” pesannya.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat membutuhkan waktu, kejujuran, komunikasi terbuka, dan komitmen yang dibuktikan melalui tindakan nyata.

Cinta seharusnya menghadirkan rasa aman dan saling menghargai, bukan tekanan, kerugian materi, ataupun manipulasi emosional. Karena itu, masyarakat perlu tetap waspada agar harapan menemukan pasangan hidup tidak dimanfaatkan oleh pihak yang berniat mengambil keuntungan. (*red)

» Simak berita lainnya di Google News SINURBERITA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *