Pertamina Ungkap Penyebab Antrean BBM Subsidi Meningkat di Riau

Wilson Eddi Wijaya, Sales Area Manager Riau, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut. (Foto: Media Center Riau)

PEKANBARU, SINURBERITA.COM — Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Provinsi Riau dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian. Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut mengungkap peningkatan kebutuhan BBM menjadi salah satu faktor yang mendorong kondisi tersebut.

Sales Area Manager Riau Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Wilson Eddi Wijaya, mengatakan Pertamina telah meningkatkan pasokan BBM untuk mengantisipasi kenaikan kebutuhan masyarakat.

Menurut Wilson, kondisi antrean pada April 2026 masih relatif normal. Namun, kebutuhan BBM mengalami peningkatan pada bulan-bulan berikutnya sehingga Pertamina melakukan penyesuaian pasokan.

“Kami perlu sampaikan bahwa kebutuhan daripada BBM ini sudah Pertamina tingkatkan. Kemudian, kita melihat bahwa posisi April 2026 itu kondisi antrean adalah normal dibandingkan dengan bulan-bulan setelah April itu ada peningkatan,” kata Wilson di Jalan Sisingamangaraja, Pekanbaru, dikutip laman Media Center Riau. Senin (7/9/2026).

Baca juga: Antrean SPBU di Riau Mengular, Pemprov Ajukan Tambahan 199 Ribu KL BBM Subsidi

Ia menjelaskan, Pertamina terus mengevaluasi kebutuhan BBM berdasarkan perkembangan konsumsi di lapangan. Penambahan pasokan dilakukan untuk menjaga ketersediaan BBM di SPBU sekaligus mengantisipasi lonjakan permintaan.

Wilson menyebutkan, pada Agustus hingga September 2026, pasokan BBM telah ditingkatkan lebih dari 27 persen dibandingkan rata-rata pasokan pada April 2026.

“Posisi Agustus sampai September ini, Pertamina sudah menambah pasokan sampai 27 persen lebih tinggi daripada rata-rata di bulan April. Artinya bahwa kebutuhan ini naik,” ujarnya.

Selain peningkatan konsumsi, Wilson menyebut adanya perubahan pola penggunaan BBM di masyarakat. Sebagian konsumen yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi disebut beralih ke BBM subsidi karena adanya perbedaan harga.

“Penyebabnya itu adalah kenaikan kebutuhan dan ada juga yang terjadi migrasi yang tadinya menggunakan bahan bakar non-subsidi, ada yang beralih karena disparitas,” ungkapnya.

Baca juga: Terungkap! 161 SPBU di Sumbagsel Disanksi Langgar SOP BBM Subsidi

Menurutnya, perubahan pola konsumsi tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan BBM bersubsidi. Selisih harga antarjenis BBM dinilai menjadi salah satu pertimbangan konsumen dalam menentukan bahan bakar yang digunakan.

Wilson juga mengaitkan perubahan pola tersebut dengan penyesuaian harga sejumlah produk BBM yang berlaku mulai 1 September 2026.

“Sebagaimana diketahui bahwa per tanggal 1 September kemarin juga ada penyesuaian harga sehingga mungkin masyarakat yang tadinya menggunakan Dexlite ada yang beralih ke Solar,” terangnya.

Pertamina, lanjut Wilson, terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan distribusi BBM berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.

Koordinasi dilakukan tidak hanya di tingkat Provinsi Riau, tetapi juga dengan pemerintah di 12 kabupaten/kota.

“Terkait dengan penyaluran ini kami terus melakukan koordinasi bukan hanya di tingkat provinsi tapi juga tingkat kabupaten kota. Karena 12 kabupaten kota juga harus kita lihat bagaimana penyaluran BBM ini bisa berlangsung,” pungkasnya. (*red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *