PEKANBARU, SINURBERITA.COM — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Riau bersama Universitas Riau (UNRI) mendorong pengembangan pendidikan pemilih yang lebih adaptif terhadap karakter Generasi Z. Pendidikan pemilih dinilai tidak cukup hanya mengajak generasi muda datang ke tempat pemungutan suara (TPS), tetapi juga perlu membangun kemampuan mereka memahami, mengkritisi, dan terlibat dalam kehidupan demokrasi.
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Optimalisasi Pendidikan Pemilih Guna Mengembangkan Partisipasi Politik Generasi Z di Provinsi Riau, yang digelar di Aula Lantai 2 Kantor KPU Provinsi Riau, Senin (31/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti Anggota KPU Provinsi Riau Nugroho Noto Susanto, Nahrawi dan Supriyanto, jajaran pejabat struktural serta staf Sekretariat KPU Provinsi Riau yang membidangi sosialisasi, pendidikan pemilih, partisipasi dan hubungan masyarakat.
Sejumlah mahasiswa magang dari berbagai perguruan tinggi di Pekanbaru juga dilibatkan sebagai representasi Generasi Z.
Sementara dari Universitas Riau hadir Tim Peneliti yang terdiri dari Dr. Hambali, M.Si., Dr. Hariyanti, M.Pd., dan Hamdi Abdullah Hasibuan, M.Pd.
Baca juga: BPK Bongkar Pengadaan Y Banner Bawaslu Riau, Kelebihan Pembayaran Capai Rp947 Juta
Ketua Tim Peneliti Universitas Riau, Dr. Hambali, M.Si., mengatakan pendidikan pemilih harus diarahkan untuk menempatkan Generasi Z sebagai bagian aktif dalam proses demokrasi, bukan sekadar sebagai penerima informasi.
“Pendidikan pemilih tidak cukup hanya memberikan pengetahuan tentang pemilu. Kita perlu mendorong transformasi Generasi Z dari penerima informasi menjadi subjek demokrasi yang memiliki pengetahuan, kesadaran kritis, keterampilan, pengalaman, dan kapasitas untuk berpartisipasi secara aktif, bertanggung jawab, serta berkelanjutan,” ujar Hambali.
Menurutnya, media sosial menjadi salah satu ruang publik yang sangat dekat dengan kehidupan Generasi Z. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan demokrasi, bukan hanya sebagai tempat memperoleh informasi yang sedang viral.
“Media sosial merupakan ruang publik yang sangat dekat dengan Generasi Z. Tantangannya adalah bagaimana ruang tersebut tidak hanya menjadi tempat menerima informasi yang viral, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar, berdiskusi, berdeliberasi, dan mengembangkan keterampilan berdemokrasi,” katanya.
Baca juga: DKPP Sidangkan Kasus Dugaan Nikah Siri Ketua Bawaslu Labuhanbatu
Anggota KPU Provinsi Riau Nugroho Noto Susanto mengatakan karakter Generasi Z menjadi tantangan bagi penyelenggara pemilu dalam merancang model pendidikan pemilih yang relevan.
Menurut Nugroho, pendidikan pemilih harus mampu membentuk generasi muda yang tidak hanya memahami hak dan kewajibannya sebagai pemilih, tetapi juga memiliki kemampuan menyikapi informasi politik secara kritis.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar pemilih yang datang ke TPS, tetapi generasi muda yang memahami demokrasi, kritis terhadap informasi politik, mampu menyampaikan pendapat, menghargai perbedaan, dan mau terlibat dalam kehidupan demokrasi secara berkelanjutan,” ujar Nugroho.
Dalam penelitian yang dipaparkan pada FGD, keterlibatan politik Generasi Z di media sosial dinilai cukup aktif. Namun, terdapat sejumlah tantangan, di antaranya kecenderungan memilih informasi berdasarkan viralitas, literasi politik yang belum optimal, serta keterampilan berdemokrasi yang masih perlu diperkuat.
Baca juga: Pemilu Telah Usai, KPU Dinilai Rugikan Negara Rp7,6 Miliar
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti menawarkan konsep Pendidikan Pemilih Integrated. Model ini dibangun dengan lima prinsip utama, yakni integratif, kolaboratif, komprehensif, berkelanjutan dan digitalisasi.
Pendidikan pemilih dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertema suara demokrasi maupun kegiatan kokurikuler.
Metode pembelajaran juga diarahkan agar lebih interaktif dan melibatkan peserta secara langsung. Beberapa metode yang ditawarkan antara lain diskusi kelompok, role playing, studi kasus, project based learning dan simulasi.
Selain itu, media pembelajaran dapat dikembangkan melalui gamifikasi, kartu prapemilih cerdas, puzzle kepemiluan serta pemanfaatan media sosial.
KPU Riau dan Universitas Riau berharap pengembangan model tersebut dapat menjadikan pendidikan pemilih sebagai proses yang berlangsung secara berkelanjutan, bukan hanya menjelang pelaksanaan pemilu.
Melalui pendidikan pemilih yang adaptif, Generasi Z diharapkan mampu menjadi generasi yang melek politik, kritis terhadap informasi, memahami nilai-nilai demokrasi, menghargai perbedaan serta memiliki kemampuan untuk berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, baik dalam proses elektoral maupun kehidupan demokrasi di luar pemilu. (*J2R)





















