Menuju Transportasi Modern, Pemkot Bandung Siapkan 200 Angkot Listrik dan 78 Titik SPKLU

Ketua IRWATA, Mochamad Sabdo Yusmintiarto.

BANDUNG, SINURBERITA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meluncurkan The Bandung Initiative yang mencakup pengembangan kota pintar berbasis AI-Blockchain sekaligus penguatan ekosistem transportasi listrik di Kota Bandung.

Peluncuran yang mengusung tema “Peluncuran Kota Pintar Berbasis AI-Blockchain & Pengakuan Kesiapan Bandung sebagai Pusat Keuangan Khusus Asia-Afrika” itu berlangsung di Pendopo Kota Bandung, Rabu, 16 September 2026.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, inisiatif tersebut menjadi salah satu langkah untuk mendorong kreativitas dan inovasi di Kota Bandung, termasuk dengan memperkenalkan startup yang berkembang di kota tersebut.

“Ini adalah salah satu upaya untuk memajukan kreasi, salah satunya dengan menampilkan startup-startup yang muncul di Bandung,” ujar Farhan.

Selain pengembangan kota pintar, Pemkot Bandung juga tengah menyiapkan ekosistem angkutan listrik yang diarahkan untuk mendukung konektivitas dengan Bus Rapid Transit (BRT) Bandung.

Program tersebut melibatkan enam perusahaan dengan pembagian peran, antara lain penyediaan kendaraan, baterai, perawatan, pengamanan kendaraan dan baterai, SPKLU, serta suku cadang.

Farhan menyebut armada Kopamas direncanakan menjadi salah satu angkutan yang dapat melayani akses menuju Bandara Husein Sastranegara.

Menurutnya, pengembangan angkot listrik merupakan bagian dari upaya membangun konektivitas antarmoda di Kota Bandung.

“Kita ingin betul-betul mencoba bahwa ekosistem angkot listrik ini menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari pembangunan konektivitas Kota Bandung,” katanya.

Ia menjelaskan, konektivitas tersebut nantinya terhubung dengan berbagai moda transportasi, mulai dari kereta api cepat, kereta api antarkota, jalan tol, penerbangan, hingga BRT Bandung. Angkot listrik diproyeksikan menjadi salah satu moda pengumpan atau feeder BRT.

Pemkot Bandung, kata Farhan, juga akan melakukan penataan terhadap operasional dan kedisiplinan pengemudi angkot. Penyediaan fasilitas pengisian daya juga akan disiapkan agar aktivitas pengisian kendaraan tidak menimbulkan persoalan baru di jalan.

Tahap Percontohan Lebih dari 200 Unit

Sementara itu, Ketua Umum Indonesia Real World Asset Tokenization Association (IRWATA), Mochamad Sabdo Yusmintiarto mengatakan, program angkot listrik saat ini masih berada pada tahap percontohan dengan rencana menyiapkan lebih dari 200 unit kendaraan.

Jika uji coba dinilai berjalan sesuai rencana, konsep tersebut akan ditawarkan kepada koperasi angkutan lainnya.

“Kita akan coba lebih ada 200-an unit. Kalau misal ini berhasil nanti kita akan menawarkan ke koperasi-koperasi yang lain,” ujar Sabdo.

Ia menjelaskan, skema yang disiapkan salah satunya berupa pertemuan antara investor dan koperasi untuk mendukung pengadaan kendaraan, sehingga beban pengadaan tidak sepenuhnya ditanggung koperasi.

Sabdo juga menegaskan, pihak perusahaan tidak melakukan perekrutan pengemudi baru. Pengemudi angkot listrik diwajibkan berasal dari anggota koperasi yang telah terdata di Dinas Perhubungan.

“Semuanya wajib dari sudah anggota koperasi. Jadi dari pihak kami perusahaan sama sekali enggak melakukan rekrutmen apa pun, kita hanya melakukan apa yang sudah ada,” katanya.

Satu unit angkot listrik disebut memiliki kapasitas 12 hingga 14 penumpang, termasuk pengemudi. Kendaraan yang diperkenalkan saat ini masih menggunakan unit yang tersedia, sementara desain baru yang disesuaikan dengan karakteristik Kota Bandung direncanakan dikembangkan dalam waktu sekitar dua bulan.

Target 78 Titik Pengisian

Untuk menunjang operasional kendaraan listrik, penyelenggara menargetkan pembangunan 78 titik SPKLU. Lokasi yang dipertimbangkan mencakup kawasan pusat pemerintahan, taman publik, hingga pool besar, termasuk di lingkungan PDAM dan PTDI.

“Mudah-mudahan bulan ini sudah mulai didata dan disurvei untuk SPKLU, target awal itu ada 78 titik,” kata Sabdo.

Pada tahap awal, angkot listrik direncanakan melayani dua rute di Kota Bandung. Pengembangan berikutnya diarahkan untuk membuka konektivitas antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung.

Selain itu, layanan angkot listrik dirancang berbasis aplikasi. Penumpang nantinya dapat mengetahui estimasi waktu kedatangan kendaraan di halte.

Aplikasi tersebut juga direncanakan memiliki fitur charter yang memungkinkan kendaraan digunakan di luar jalur reguler sesuai kebutuhan pengguna.

“Basic-nya aplikasi, jadi nanti kalau mau pesan angkot sudah kelihatan dia mau sampai di haltenya berapa menit. Di sana ada fitur untuk charter,” jelas Sabdo.

Menurutnya, kendaraan yang di-charter dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan perjalanan di luar rute reguler.

Uji Coba untuk Hitung Konsumsi Energi

Mengingat biaya pengadaan angkot listrik lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin, sejumlah skema pendukung juga tengah disiapkan.

Di antaranya pemasangan iklan pada bodi kendaraan serta penyediaan WiFi gratis di dalam kabin yang dilengkapi CCTV. Tarif layanan juga disebut akan diupayakan lebih rendah dibandingkan layanan ojek daring.

Sabdo mengatakan, terdapat tiga hal yang masih dalam tahap pengembangan, yakni formulasi kerja sama dan pembagian hasil untuk memastikan pengemudi lama tetap diberdayakan, pengajuan penyesuaian rute agar tidak berbenturan dengan feeder BRT, serta uji coba operasional selama satu bulan.

Uji coba tersebut salah satunya dilakukan untuk mendapatkan data konsumsi energi kendaraan sebagai dasar evaluasi operasional.

“Mudah-mudahan satu bulan ini kami uji coba untuk mesin, karena kita pengen tahu borosnya berapa banyak. Setelah satu bulan angkot ini dicoba kami akan dapat datanya,” pungkasnya. (*Fajar)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *