DELISERDANG, SINURBERITA.COM – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) bersama Pemerintah Pusat resmi meluncurkan Gerakan Nasional Pesantren Bebas Tuberkulosis (TB) dan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Nasional 2026. Gerakan ini menyasar lingkungan pesantren di seluruh Indonesia sebagai upaya mempercepat penanggulangan TB sekaligus melindungi kesehatan jutaan santri.
Peluncuran program tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren Mawaridussalam, Desa Tumpatan, Kecamatan Batangkuis, Kabupaten Deliserdang, Rabu (4/11/2026).
Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan pemerintah pusat yang memilih Deliserdang sebagai lokasi peluncuran gerakan nasional tersebut.
Menurutnya, kesehatan merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia (SDM) berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, pesantren harus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat pencegahan dan penanggulangan TB.
Surya menekankan pentingnya edukasi kesehatan, deteksi dini, serta penerapan pola hidup bersih dan sehat di lingkungan pesantren.
Baca juga: Geger! Eks Kapolri Listyo Sigit Jadi Tersangka Kasus Penyadapan Presiden
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma negatif terhadap pesantren maupun penderita tuberkulosis. Sebab, pesantren bukanlah penyebab penularan TB, melainkan dapat menjadi garda terdepan dalam memutus rantai penyebaran penyakit tersebut.
“Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat. Sumatera Utara termasuk provinsi dengan beban TB terbesar keempat di Indonesia. Terdapat estimasi 74.304 kasus yang harus ditemukan pada tahun 2026 dengan target penemuan 90%. Hingga 30 Oktober 2026, kasus yang berhasil ditemukan sebanyak 43.976 kasus atau 59,2%,” ujar Surya.
Peluncuran gerakan nasional ini turut dihadiri tiga wakil menteri Kabinet Merah Putih, yakni Wakil Menteri Agama RI Romo Muhammad Syafii, Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, serta Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus.
Wamenag Romo Muhammad Syafii menjelaskan, kegiatan tersebut juga disaksikan secara daring oleh seluruh Kantor Wilayah Kementerian Agama, Kantor Kemenag kabupaten/kota, serta pondok pesantren di berbagai daerah di Indonesia.
“Meskipun dilaksanakan di Deliserdang, ini adalah wajah Indonesia. Pesantren dengan 11 juta santri dan 1,7 juta kiai merupakan pilar penting bangsa,” katanya.
Ia menegaskan, kolaborasi lintas kementerian dalam gerakan ini merupakan bentuk penerapan Maqashid Syariah, khususnya dalam menjaga jiwa (hifzh an nafs) dan menjaga keturunan (hifzh an nasl).
Setelah peluncuran di Sumatera Utara, program Pesantren Bebas TB dan Cek Kesehatan Gratis dijadwalkan berlanjut ke Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga DKI Jakarta.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini menempati posisi kedua dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak di dunia setelah India.
Kondisi tersebut mendorong Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi khusus agar penanganan TB dilakukan secara lebih intensif dan menyeluruh.
“Hingga saat ini, lebih dari 114 juta warga Indonesia telah memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Melalui pencanangan Pesantren Bebas TB ini, pemerintah ingin memastikan warga pesantren terbebas dari penularan serta mendorong para santri menjadi Duta Kesehatan,” ungkap Benjamin.
Selain memperkuat penanganan TB, pemerintah juga berkomitmen meningkatkan pemerataan fasilitas kesehatan. Benjamin menyebutkan, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp120 triliun untuk merehabilitasi 441 rumah sakit daerah serta memperbarui 1.988 puskesmas di seluruh Indonesia mulai tahun depan.
Baca juga: Kabel Semrawut di Jalan Paus Pekanbaru Mulai Ditertibkan, 12 Provider Sepakat Relokasi
Pimpinan Pondok Pesantren Mawaridussalam, Busron Sudarmanto, menyambut baik peluncuran program nasional tersebut. Ia mengaku bersyukur pesantrennya dipercaya menjadi lokasi pencanangan gerakan Pesantren Bebas TB.
“Ini merupakan berkah luar biasa bagi kami. Santri dan pengajar membutuhkan kondisi fisik yang prima untuk menjalankan tugas belajar dan mengajar. Kami sangat berterima kasih atas perhatian nyata dari Pemerintah Pusat dan Pemprov Sumut,” tuturnya.
Melalui gerakan ini, pemerintah berharap lingkungan pesantren semakin sehat, kesadaran deteksi dini meningkat, dan para santri dapat berperan aktif dalam mendukung upaya Indonesia menuju bebas tuberkulosis. (*red)
Simak Berita dan Artikel lainnya di Google News dan WA Channel














