PONTIANAK, SINURBERITA.COM – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), komunitas, serta masyarakat luas untuk bersama-sama membantu anak-anak penyintas kanker, thalasemia, dan penyakit jantung bawaan.
Ajakan tersebut disampaikan Edi saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional bersama anak-anak penyintas di Aula PMI Kota Pontianak, Kamis (23/7/2026).
Menurut Edi, Pemerintah Kota Pontianak selama ini telah menyediakan berbagai bentuk bantuan bagi warga kurang mampu, mulai dari kepesertaan BPJS Kesehatan melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI), bantuan sosial pasca-pengobatan, hingga biaya transportasi bagi pasien yang harus dirujuk ke Jakarta.
“Selama ini Pemkot Pontianak sudah menganggarkan bantuan sosial, termasuk ongkos perjalanan ke Jakarta bagi warga tidak mampu yang menjalani pengobatan,” ujarnya.
Baca juga: Aksi Kekerasan Guncang Yahukimo, Tiga Warga Sipil Meninggal Dunia
Namun, ia menegaskan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu, keterlibatan sektor swasta melalui program CSR dinilai penting agar semakin banyak anak yang memperoleh dukungan selama menjalani pengobatan.
“Kita mengajak CSR dan dunia usaha juga ikut membantu. Dengan kolaborasi, kita bisa meringankan beban anak-anak dan keluarga mereka,” kata Edi.
Ketua PMI Kota Pontianak itu berharap peringatan Hari Anak Nasional tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu memperkuat kepedulian sosial terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia juga mengajak masyarakat menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan mendukung tumbuh kembang anak, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang publik.
“Kita berkepentingan untuk terus berkolaborasi agar anak-anak ini memiliki kesempatan hidup sehat, berkembang, dan membangun masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Edi turut mengapresiasi peran relawan Sedaya Indonesia yang selama ini aktif mendampingi keluarga pasien, terutama saat menjalani pengobatan di Jakarta.
Baca juga: Proyek Gedung Universitas Andalas Terindikasi Rugikan Negara Rp3,76 Miliar
Sementara itu, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RSUD dr. Soedarso Pontianak, dr. Anindia Wardhani, mengungkapkan jumlah anak dengan penyakit jantung bawaan yang terdeteksi terus meningkat. Meski layanan di RSUD dr. Soedarso semakin berkembang, keterbatasan fasilitas operasi jantung anak membuat sebagian pasien masih harus dirujuk ke Jakarta.
“Setiap pekan kami merujuk sekitar lima hingga enam pasien ke RS Jantung Harapan Kita. Saat ini ada 29 pasien asal Kalimantan Barat yang masih berada di Jakarta untuk menunggu operasi maupun pemeriksaan lanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, beberapa kasus penyakit jantung bawaan dengan tingkat kompleksitas ringan kini sudah dapat ditangani di RSUD dr. Soedarso melalui pemasangan alat dan deteksi dini. Namun, kasus yang membutuhkan tindakan bedah jantung anak masih memerlukan rujukan ke rumah sakit nasional.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan berkelanjutan dari pemerintah, dunia usaha, organisasi sosial, dan masyarakat agar anak-anak penyintas penyakit kronis memperoleh akses pengobatan yang optimal serta pendampingan selama menjalani proses penyembuhan. (*Jaiyadi)





















