Warga Tambang Tolak Kuari, Abrasi Sungai dan Jembatan Miring Jadi Sorotan

Aktivitas kuari atau galian material di Dusun III Durian Tandang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar.

LKAMPAR, SINURBERITA.COM – Aktivitas kuari atau galian material di Dusun III Durian Tandang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar menuai penolakan keras dari masyarakat setempat.

Meski telah diprotes warga dan dilaporkan secara resmi ke Polda Riau, aktivitas tambang tersebut disebut masih terus beroperasi, bahkan hingga malam hari.

Warga menilai keberadaan kuari itu telah menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan mengancam keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.

“Sekarang kondisi sungai makin terkikis. Pohon sawit milik warga sudah banyak yang jatuh ke sungai karena tanah di pinggir terus longsor,” ujar salah seorang warga yang tidak ingin disebut identitasnya, Kamis (14/5/2026).

Baca juga: Alarm Pendidikan Riau: 11.856 Ijazah Masih Tersimpan di Sekolah

Menurut warga, abrasi di bantaran sungai semakin parah akibat aktivitas pengerukan material yang terus berlangsung. Kondisi tersebut membuat masyarakat khawatir longsor akan semakin meluas hingga mengancam permukiman warga yang berada di dekat bibir sungai.

Tak hanya itu, aktivitas kuari juga disebut berdampak terhadap infrastruktur desa. Jembatan gantung yang menjadi akses utama masyarakat dilaporkan mulai miring dan memicu kekhawatiran warga saat melintas.

“Jembatan gantung itu akses utama masyarakat. Sekarang kondisinya sudah miring dan warga mulai merasa takut melintas,” kata warga lainnya.

Penolakan terhadap aktivitas kuari tersebut sudah berlangsung cukup lama. Namun hingga kini, operasional tambang diduga masih berjalan normal. Warga bahkan menduga aktivitas dilakukan hingga malam hari untuk mengejar produksi material.

Baca juga: Selama Tiga Pekan, Polda Riau Amankan 31,8 Kg Sabu dan 2.319 Ekstasi

Karena merasa aspirasi mereka belum mendapat perhatian, masyarakat akhirnya melayangkan surat aduan resmi ke Polda Riau. Dalam laporan itu, warga meminta aparat penegak hukum turun tangan menghentikan aktivitas kuari yang dianggap merusak lingkungan dan membahayakan keselamatan masyarakat sekitar.

Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan peninjauan langsung ke lokasi agar dampak kerusakan tidak semakin meluas.

“Kami hanya ingin lingkungan kami aman. Jangan sampai nanti ada korban baru tindakan dilakukan,” ungkap warga.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola kuari maupun instansi terkait terkait aktivitas tambang tersebut. (*red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *