Krisis Energi Global Diprediksi hingga 2027, DEN Imbau Warga Hemat BBM

JAKARTA, SINURBERITA.COM – Krisis energi global diperkirakan masih akan berlangsung hingga 2027 apabila gangguan distribusi minyak dunia, terutama di jalur strategis Selat Hormuz, tidak segera pulih. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dan lonjakan harga minyak internasional.

Di tengah meningkatnya tekanan geopolitik global, Dewan Energi Nasional (DEN) mengimbau masyarakat Indonesia mulai melakukan penghematan bahan bakar minyak (BBM) sebagai langkah antisipatif menjaga ketahanan energi nasional.

Baca juga: Nadiem Makarim Dituntut 18 Tahun Penjara, Uang Pengganti Rp5,6 Triliun

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan pasar minyak global tidak akan cepat kembali stabil jika gangguan distribusi terus berlanjut.

“Semakin lama gangguan pasokan berlanjut, bahkan hanya beberapa pekan tambahan, maka akan dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama bagi pasar minyak untuk kembali seimbang dan stabil,” ujar Amin Nasser dalam konferensi video mengenai hasil kuartal pertama Saudi Aramco, dikutip dari Antara.

Ia menyebut krisis energi berpotensi berlangsung hingga 2027 apabila kebuntuan di Selat Hormuz terus terjadi hingga pertengahan Juni. Menurutnya, pasar minyak yang telah kehilangan satu miliar barel akibat gangguan produksi dan distribusi akan terus kehilangan sekitar 100 juta barel per minggu selama jalur pelayaran tersebut masih terganggu.

Sebelum krisis memanas, sekitar 70 kapal per hari melintasi Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pengiriman energi dunia. Jalur tersebut selama ini menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.

Baca juga: Dari Combat Force ke Strategic Force, Seskoad Bahas Masa Depan TNI AD

Tekanan Pasar Energi Global

Eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia memperburuk kondisi pasar energi internasional. Penutupan efektif Selat Hormuz menghambat distribusi minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk menuju pasar global.

Sebelum konflik pecah pada 28 Februari lalu, sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati jalur tersebut. Gangguan distribusi itu kini memicu kenaikan harga energi sekaligus memperbesar ketidakpastian pasar global.

Berbagai upaya diplomatik disebut belum menghasilkan solusi konkret. Pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, sementara dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran terus memengaruhi prospek pemulihan jalur perdagangan energi dunia.

Baca juga: KPU Riau Mengajar di UIR, Bahas Pendidikan Politik dan Demokrasi

DEN Imbau Efisiensi Energi

Menanggapi situasi tersebut, anggota Dewan Energi Nasional, Satya Widya Yudha, meminta masyarakat mulai menerapkan pola konsumsi energi yang lebih efisien.

“Kita meminta masyarakat untuk melakukan efisiensi. Bermobil dan berkendara dengan cara-cara efisien serta memaksimalkan penggunaan transportasi publik,” ujar Satya dalam sarasehan energi bertajuk transisi energi di tengah disrupsi geopolitik global di Kampus ITB Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/5/2026).

Ia juga mendorong masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi untuk mulai memanfaatkan kendaraan listrik guna menekan konsumsi BBM nasional.

“Dengan demikian, konsumsi BBM bisa ditekan jauh dan ketergantungan kita terhadap impor energi juga akan berkurang,” katanya.

DEN mencatat ketahanan energi nasional saat ini masih berada pada level aman dengan indeks 7,13 dari skala 10. Sementara itu, cadangan operasional BBM nasional berada pada kisaran 21 hingga 28 hari.

Pemerintah juga memiliki landasan hukum melalui PP Nomor 40 Tahun 2016 untuk menghadapi kondisi krisis dan darurat energi apabila terjadi gangguan pasokan ekstrem.

Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi energi domestik, pengembangan lapangan migas baru, serta percepatan penggunaan energi alternatif guna memperkuat kemandirian energi nasional di tengah ancaman krisis energi global. (*red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *